11“Kita tidak menuduh dia mencuri!” bentak Uban. “Tapi ini semua terlalu berhubungan. Batu hilang. Jelita hilang. Dan sekarang kau ingin menyelamatkan dia tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi?”

Percakapan semakin memanas. Ayunga mengingatkan, "Bukankah sudah jelas ucapan pria yang kita temukan. Dia memberikan informasi kepada kita tentang keberadaan Jelita ada ditangan perampok. Itu artinya anakku ditangkap mereka. Anakku tidak ada hubungannya dengan batu warisan leluhur."

Masih teringat di pikiran mereka dengan jelas. Saat itu mereka mencari keberadaan Jelita ke seluruh penjuru desa dan sekitarnya selama sekian minggu. Akhirnya mereka mendapatkan informasi dari seseorang pria suku Yaksa yang baru pulih setelah mengalami luka pertempuran. Pria itu mengatakan jika melihat wanita dengan ciri-ciri seperti Jelita sedang berada ditangan perampok saat mereka berusaha membalas dendam.

Mendapatkan informasi itu, Uban dan Ayunga memerintahkan beberapa orang untuk pergi menyelidiki ke perkampungan perampok untuk memastikan.

“Dan kau?" Ayunga berkata dengan sorot mata tajam menatap pria yang membawa berita. "kenapa kau hanya kembali membawa kabar buruk ini?” Ayunga melangkah maju, wajahnya penuh emosi. “Kenapa kau tidak mencoba menyelamatkan dia?!”

“Tidak mungkin, Tetua!” jawab pria itu dengan nada putus asa. “Mereka memiliki ratusan orang. Perkampungan itu dijaga ketat, dan Jelita… dia dalam keadaan yang mengenaskan.”

“Cukup,” Uban mengangkat tangannya, menghentikan keributan. Ia menatap semua orang dengan tegas. “Kita tahu di mana Jelita sekarang. Kita tahu siapa yang memilikinya. Sekarang saatnya bertindak.”

“Bagaimana kita akan menyelamatkannya?” tanya salah satu penduduk. “Mereka terlalu banyak. Kita tidak bisa menyerang langsung.”

Uban mengangguk pelan, ekspresinya serius. “Kita gunakan apa yang kita punya. Kita adalah suku Yaksa. Sungai adalah sahabat kita. Kita serang mereka lewat air.”

Tetua lain menyela, “Tapi itu berbahaya. Jika mereka tahu, kita bisa kehilangan segalanya.”

Ayunga menggenggam tangannya dengan erat, matanya penuh tekad. “Aku tidak peduli. Aku akan menyelamatkan putriku, atau mati mencobanya.”

Penduduk yang lain mulai berbisik, membicarakan kemungkinan keberhasilan.

“Kita tidak punya banyak waktu,” kata Uban akhirnya. “Persiapkan perahu. Kita bergerak malam ini.”

Namun, di sudut dermaga, seorang pria dengan wajah licik mengamati semuanya dengan tenang. Dialah tetua pengkhianat, yang mendengar rencana mereka dengan jelas. Wajahnya sedikit menyeringai sebelum ia menghilang ke dalam hutan untuk membawa kabar itu kepada perampok.

Beberapa waktu kemudian, di dalam sebuah gubuk kecil yang tersembunyi di hutan, tetua pengkhianat, Gahara, berdiri sambil berbicara pelan dengan salah satu anak buahnya, Bahir. Cahaya obor menerangi wajah liciknya yang tampak penuh perhitungan.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” ujar Gahara dengan nada rendah tapi tegas. “Pergilah ke perkampungan perampok itu. Beri tahu pimpinan mereka tentang rencana penyelamatan suku Yaksa. Katakan bahwa mereka akan menyerang lewat jalur sungai.”

Anak buahnya mengangguk cepat, wajahnya tampak gugup. “Tapi, Tetua, bagaimana jika mereka tahu ini dari kita? Jika kepala suku mengetahui pengkhianatan ini, nyawa kita terancam.”

Gahara mendesis, matanya menyipit tajam. “Jangan bodoh. Mereka tidak akan pernah tahu. Lagi pula, kita tidak perlu menyerahkan apa pun kecuali informasi. Kalau semua berjalan lancar, kita bahkan mungkin akan mendapatkan bagian dari rampasan mereka. Sekarang pergi.”

Anak buah itu melesat pergi, meninggalkan Gahara yang menyeringai tipis. “Maafkan aku, Jelita,” gumamnya pelan. “Ini bukan hanya tentang kau. Ini tentang kepentingan yang lebih besar.”

Segera, ketika semua orang sedang bersiap-siap, Bahir menyelinap pergi. Ia menuju jalur rahasia yang hanya diketahui beberapa orang Yaksa, menyusuri sungai kecil dengan perahu kecilnya. Beberapa jam kemudian, ia tiba di perkampungan perampok. Penjaga di gerbang menghentikannya, tapi setelah Bahir menyebut nama pimpinan mereka, ia segera diizinkan masuk.

Di dalam, Bahir langsung menemui pemimpin perampok, seorang pria bertubuh besar dengan wajah penuh bekas luka.

"Ada kabar baik," kata Bahir dengan senyum liciknya. "Ayunga sedang mempersiapkan suku Yaksa untuk menyelamatkan putrinya."

Pimpinan perampok tertawa keras. "Ayunga? Tetua tua itu benar-benar ingin melawan kami?"

Bahir mengangguk. "Dia akan datang melalui jalur sungai. Mereka berpikir jalur itu aman dan tidak terjaga. Aku datang ke sini untuk memastikan kalian siap."

“Jalur sungai, kau bilang?” tanyanya sambil mengangkat alis.

“Benar, Tuan,” jawab si pengantar pesan dengan kepala tertunduk. “Mereka berencana menyerang malam ini, langsung dari air.”

“Bagus,” ujar pemimpin  perampok akhirnya, menyeringai puas. “Suku Yaksa benar-benar tidak tahu tempat. Kalau mereka ingin menyerang kita dengan cara konyol seperti itu, kita akan memberikan mereka sambutan istimewa.”

Ia berdiri, menatap anak buahnya. “Perkuat penjagaan di sekitar sungai. Siapkan penyergapan di sepanjang sungai! Pastikan kita bisa memukul mundur mereka sebelum mereka mencapai darat. Dan jika mereka berhasil masuk... kita buat mereka menyesal.”

Para anak buahnya mengangguk serempak, segera bergerak untuk mempersiapkan jebakan di sepanjang jalur sungai.

Pemimpin itu lalu menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang kuning. "Bagus, Bahir. Kau memang tahu cara menjaga dirimu tetap hidup."

"Dan untuk Jelita?" tanya Bahir dengan nada penuh kepentingan.

"Hingga sekarang dia masih belum mengatakan di mana menyembunyikan batu itu. Kita harus segera menemukannya segera." Kata pemimpin itu dengan marah.

"Sebelum mendapatkan batu itu, kita akan memastikan dia tetap hidup, tapi cukup menderita agar Ayunga melihat apa akibatnya menantang kita." Pemimpin itu melirik ke luar jendela, ke arah halaman tempat para tahanan diikat. "Aku ingin mereka merasakan kekuatan kita agar nantinya tidak ada satupun orang yang berani terhadap kita." Katanya sambil tertawa.

Bahir mengangguk puas. Ia telah memastikan dirinya tetap aman dengan membantu perampok, bahkan jika itu berarti menghancurkan kehormatan sukunya sendiri.

Kembali ke dermaga Yaksa, suasana tampak tegang. Perahu-perahu kecil telah dipersiapkan, lengkap dengan dayung dan persenjataan seadanya. Beberapa pria mengikat tombak di sisi perahu, sementara yang lain membawa jaring besar untuk menghalau musuh di air. Kepala suku Uban berdiri di tengah lingkaran, dikelilingi oleh para tetua, termasuk Gahara, yang berdiri dengan wajah pura-pura khawatir.

“Kita tidak akan menyerang mereka,” kata Uban dengan tegas. “Tujuan kita bukan pertempuran, melainkan penyelamatan. Fokus kita adalah menyelamatkan Jelita dan membawanya kembali ke sini dengan selamat.”

Seorang pria muda di pinggir lingkaran mengangkat tangan, wajahnya ragu. “Tapi, Kepala Suku, bagaimana jika mereka menyerang kita? Kita tidak punya cukup kekuatan untuk melawan mereka.”

“Benar,” tambah seorang wanita tua dengan nada cemas. “Mereka adalah perampok yang terlatih. Jumlah mereka ratusan. Kita bahkan mungkin tidak bisa mendekati mereka tanpa kehilangan nyawa.”

“Kalian semua terlalu takut!” seru Ayunga dengan suara keras, berdiri dengan tangan terkepal. “Itu anakku di sana! Jelita sedang disiksa! Bagaimana mungkin kalian ingin berpikir dua kali soal menyelamatkannya?!”

Uban mengangkat tangannya, meminta semua orang tenang. “Ayunga, aku mengerti perasaanmu. Tapi kita harus tetap menggunakan akal sehat. Jika kita menyerang tanpa rencana, kita akan kehilangan lebih banyak nyawa.”

Di tengah perdebatan itu, Gahara melangkah maju dengan ekspresi pura-pura prihatin. “Kepala Suku, mungkin kita perlu memikirkan hal ini dengan lebih hati-hati. Mungkin ada cara lain untuk menyelamatkan Jelita tanpa harus mempertaruhkan nyawa seluruh suku.”

Ayunga melirik Gahara dengan tajam. “Dan apa itu, Gahara? Diam di sini sambil menunggu mereka mengirimkan mayatnya?!”

Gahara mengangkat bahu, berpura-pura tenang. “Aku hanya berpikir, mungkin kita bisa menawarkan sesuatu kepada mereka. Perampok hanya peduli pada keuntungan. Jika kita menyerahkan sesuatu yang mereka inginkan... mungkin mereka akan membebaskan Jelita.”

“Omong kosong!” bentak Ayunga. “Itu anakku, bukan barang tukar!”

“Kita tidak bisa menyerah kepada musuh!” ujar seorang prajurit muda dengan nada penuh semangat. “Jika kita menyerah sekarang, mereka akan tahu kita lemah. Mereka akan terus menyerang kita!”

Gahara mundur sedikit, tapi masih berusaha mempengaruhi situasi. “Aku hanya memberi saran. Jangan salahkan aku jika kalian semua akhirnya mati karena keputusan gegabah.”

“Cukup!” seru Uban, menghentikan keributan. Ia menatap Gahara dengan tajam, meskipun tidak mengatakan apa-apa lagi.

